SOSOK INSPIRATIF DARI PEGUNUNGAN
RESUME 4 BM-27 PGRI
Sore
hari sebelum kelas dimulai, aku mencermati flyer pertemuan ke-4 yang dikirimkan
oleh panitia Kelas BM-27 PGRI. Aku sedikit bingung membaca topik yang akan
dibahas. "Menulis Membuatku Naik Kelas & Berprestasi". Aku
gagal paham dengan kalimat "Naik Kelas" yang tertera di situ. Tapi ya
sudahlah, aku berfikir nanti tanyaku pasti akan menemukan jawabnya.
Sebelum mebuat resume, biasanya aku
membuat catatan yang aku bagi menjadi beberapa bagian yaitu Perkenalan
Moderator, Pengantar Moderator, Pengenalan Narasumber, Pengantar Materi Dari
Moderator, Dan Paparan Materi Narasumber dan Tanya Jawab. Aku mencatat
bagian demi bagian sesuai dengan yang disampaikan oleh moderator dan narasumber.
Saat masuk ke bagian, Bu Rosminiyati menyampaikan materinya sudah selesai dan
masuk ke sesi tanya jawab. Baru aku sadar ternyata materinya adalah pengalam dari
narasumber dari awal menulis hingga dapat meraih mipi dan prestasi di bidang
menulis.
Kelas
dibuka dengan salam hangat dari Ibu Rosminiyati selaku moderator. Semangat
menulis beliau di usia yang terbilang sudah tidak muda lagi patut diacungi
jempol. Aura positif langsung terasa begitu beliau menuliskan kata-kata bijak
yang membuat semangat menulisku dsemakin tergugah.
"Keberadaan Bapak/Ibu di
sini bukanlah suatu kebetulan saja, melainkan ada rencana besar yang disiapkan
Allah untuk masing-masing kita. Oleh karena itu, jemputlah takdir baik
Bapak/Ibu dengan memanfaatkan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya."
Bu Rosminiyati memperkenalkan seseorang yang menurut beliau adalah pribadi yang cerdas, berbakat, inspiratif, dan selalu ceria sebagai narasumber pada pertemuan ke-4 ini. Beliau adalah Ibu AAM NURHASANAH, S.Pd. Bu Aam adalah seorang guru di SMP Negeri Satu Atap 4 Cipanas, Namun selain sebagai guru, beliau juga menekui profesi tambahan sebagai blogger, narasumber, moderator, kurator, dan editor. Dan profesi tambahan itulah yang membuat beliau naik kelas karena prestasi-prestasi yang diraihnya.
Pengenalan
narasumber oleh Bu Rosminiyati, membuat aku paham, bahwa yang dimaksud dengan
kalimat “Naik Kelas” disi adalah capaian prestisius di bidang menulis. Dan cerita
yang ada di balik capaian prestisius dari narasumber (Bu Aam) itulah yang
menjadi materi pada pertemuan ke-4 ini.
Bu Aam
mengawali materinya dengan menceritakan kegagalannya saat menjadi peserta pada
Kelas BM-8 karena beliau tidak dapat menyelesaikan tugas resume dengan baik.
Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya, sehingga beliaubangkit lagi
dan mengulang di Kelas BM-12. Keberadaannya di Kelas BM-12 mempertemukannya
dengan Bu Kanjeng Sang Ratu Antologi pada pertemuan ke-2 yang mengajak dan
menyemangati para peserta untuk mengabadikan karya pertamanya dalam sebuah buku
antologi. Maka lahirlah buku antologi pertama beliau yang di beri judul “Semangat Menulis Bersama Bu Kanjeng”
Bu
Aam menyampaikan bahwa buku antologi tersebut sangat bersejarah untuk beliau,
karena pada buku tersebut beliau dapat memposisikan nama beliau di urutan
pertama sehingga semangat beliau semakin berkibar untuk menyelesaikan semua
resume dan lulus dari Kelas BM-12.
Lulus
dari Kelas BM-12, Bu Aam berhasil berhasil mendokumentasikan kumpulan resumenya
menjadi sebuah buku solo perdananya. Buku tersebut di beri Judul “Mengukir Mimpi Menjadi Penulis”. Menurut
beliau buku solo perdananya tersebut lahir dari mimpinya yang ingin menulis
seribu buku sampai kelak Beliau menjadi seorang penulis hebat. Dan beliaupun
menyelipkan sebuah pesan. “Bermimpilah
dahulu, jangan takut untuk bermimpi, dan wujudkanlah mimpimu”.
Lahirnya
buku solo pertama beliau memberikan peluang besar untuk dapat meraih mimpi
menulis seribu buku. Diawali dengan bergabungnya beliau di tim Om Jay yang
ditugaskan sebagai moderator. Tugas baru tersebut ternyata beliau jadikan
inspirasi hingga lahirlah buku solo kedua yang berjudul “Kunci Sukses Menjadi Moderator Online”. Performa beliau selama menjadi moderator membuat beliau
kembali mendapat tawaran baru dari Bu Kanjeng yaitu untuk menjadi kurator. tanpa
berpikir panjang beliaupun langsung menerima tawaran tersebut.
Kedua profesi baru tersebut membuat Bu Aam tertantang untuk mengasah kemampuannya dalam menulis dengan mengikuti lomba blog yang di adakan oleh PGRI. Pada lomba tersebut peserta dituntut untuk menulis tanpa jela selama 28 hari. Dan usaha belaiupun tak sia-sia, karean belaia dinobatkakan sebagai juara 1 Tingkat Nasial. Pengalam dalam mengikuti lomba tersebut beliau kemas dalam buku solo ketiganya yang berjudul “Blogger Inspiratif”.
Pengalaman
Bu Aam sebagai moderator, kuratur dan juara dalam lomba blog membuka kesempatan
baru bagi Bu Aam. Seorang siswanya yang bekerja sebagai TKI di Arab Saudi memintanya
untuk mengabadikan kisah cinta dalam hidup enjadi sebuah novel. Akhirnya lahirlah
sebuah nover dengan 300 halaman. Novel tersebut diberi judul “Seindah Takdir Cinta”. Hebatnya pada
novel pertamanya inilah beliau mengukuhkan dirinya menjadi editor. Dan pengalaman
itulah yang membuat beliau banjir tawaran dari peserta Kelas BM untuk menjadi
editor buku resumenya.
Setiap kesempatan atau tantangan yang Bu Aam terima selalu melahirkan karya berupa buku solo. Seperti halnya saat beliau ditantang menulis buku dengan tema Karena Menulis aku ada (KMAA), beliau menjawabnya dengan buku Solo yang berjudul “Rajin Menulis Berbuah Hasil”. Begitu pula saat Om Jay memberi tantangan menulis untuk penerbit mayor, belaiu berkolaborasi dengan prof. Richardus Eko Indrajit menghasilkan buku yang bertajuk “Parenting 4.0” hanya dalam satu minggu saja.
Semua
yang dilalui Bu Aam bukanlah tanpa kendala. Salah satu kendala yang kerap menghinggapinya adalah kondisi signal yang tidak bersahabatt
di lokasi tempat tinggal beliau yang pegunungan tidak pernah menyurutkan
tekadnya untuk terus belajar dan berkaya. Pengalaman Bu Aam yang selalu berani
mencoba hal baru dan menerima setiap tantangan telah membuatnya mampu mengukir
prestasi yang kini telah membawanya kepada puncak kesuksesan. Sukses karena
dianggap sebagai orang yang memiliki ilu menulis yang mumpuni sehingga beliau
sering diundang untuk menjadi narasumber pada kelas-kelas menulis ditingkat
nasional. Dan semua hal itu telah membuatnya “naik kelas” dari seorang yang pernah gagal menjadi penulis handal.
Sosok inspiratif Bu Aam memberikan banyak sekali pelajaran berharga. Benarlah kata pepatah “Bagaima ditanam begitulah dituai”. Kesuksesan tidak akan pernah terjadi secara instan. Awali dengan mimpi, kuatkan dengan niat dan tekad, wujudkan dengan usaha yang sungguh-sungguh dan jangan pernah menyerah dalam kondisi apapun.




Resumenya bagus mbak Nur Azisah..
BalasHapusmakasih mba mentor
HapusKeren !
BalasHapusTerima kasih
Hapus